Memahami diafragma dalam fotografi

Apakah Diafragma dalam fotografi?


Diafragma dalam fotografi adalah ukuran besar atau kecilnya bukaan lensa. Diafragma mengatur besarnya cahaya yang masuk ke dalam kamera dengan cara mengatur besar dan kecilnya lubang cahaya pada lensa. Diafragma sering juga disebut bukaan lensa atau aperture.  Diafragma ini merupakan bagian dari segitiga eksposur.

Pada artikel sebelumnya saya sempat membahas teknik fotografi dasar yang berisi mengenai proses pembentukan sebuah foto dan segitiga eksposur. Saya hanya bahas sedikit mengenai pengaruh diafragma pada eksposur. Pada artikel ini saya akan mengulas lebih detail mengenai diafragma ini, dari penulisan simbol diafragma sampai tips memilih diafragma yang tepat untuk menghasilkan foto sesuai yang diinginkan.
Memahami Diafragma Dalam Fotografi
Memahami Diafragma Dalam Fotografi
Baca juga :
Bicara diafragma adalah bicara mengenai lubang bukaan cahaya. Pada gambar di atas terlihat dua buah foto yang diambil dengan diafragma yang berbeda. Foto yang sebelah kiri diambil menggunakan bukaan diafragma kecil yaitu f/22 sedangkan foto sebelah kanan diambil pada bukaan besar yaitu f/1.8. Lubang masuknya cahaya ke body kamera melalui lensa bisa dilihat pada gambar lensa dan bukaanya yang ada di samping masing-masing foto. Ini adalah pengertian yang paling sederhana tapi paling bermanfaat dalam pemotretan. Selain itu dalam artikel ini juga akan dibahas beberapa hal mengenai diafragma yang jarang diulas di artikel-artikel fotografi.

Penulisan diafragma atau aperture

Sebagaimana definisinya, diafragma merupakan ukuran besar kecilnya sebuah lubang. Biasanya besar kecilnya sebuah lubang dinyatakan dengan ukuran panjang diameter atau jari-jarinya. Hal ini berlaku juga untuk ukuran diafragma atau aperture.

Besarnya bukaan aperture atau diafragma dinyatakan dengan ukuran panjang diameter. Hanya saja ukuran panjang diameter lubang ini dibuat dalam ukuran relatif terhadap panjang fokus lensa. Biasanya sering ditulis f/n dimana n adalah angka-angka tertentu sesuai dengan interval f-stop. Jadi dengan mengetahu 'f' atau focal length yang digunakan dan mengetahui 'n' atau aperture number yang dipilih maka kita bisa menghitung panjang diameter lubang bukaan lensa yang kita gunakan.
Contoh Peulisan Spesifikasi Diafragma Pada Lensa DSLR
Contoh Penulisan Spesifikasi Diafragma Pada Lensa DSLR
Baca juga:

Sebagai contoh f/4 digunakan untuk menyatakan besaran lubang diafragma yang panjang diameternya setara dengan jarak fokus dibagi 4. Saat kita menggunakan panjang fokal lensa atau focal length 200 mm dengan aperture f/4 artinya diameter bukaan lensa yang dihasilkan dari settingan ini adalah 200 mm dibagi 4 yaitu 50 mm atau 5 cm.

Memahami spesifikasi lensa DSLR terkait diafragma

Sebelum membahas lebih jauh saya ingin mengajak pembaca untuk memahami spesifikasi dari lensa DSLR yang berkaitan dengan ukuran diafragma. Semakin besar ukuran maksimum diafragma atau aperture maka biasanya akan semakin mahal harga lensa. Ukuran aperture maksium lensa ada yang fixed atau tetap pada beberapa panjang focal length dan ada yang bervariasi sepanjang focal length.

Sebagai contoh lensa kit bawaan kamera biasanya mempunyai rentang bukaan diafragma maksimum antara f/3.5 sampai f/5.6. Biasanya ditulis sebagai berikut Canon EF-S 18-55 mm f/3.5-5.6. Arti dari spesifikasi lensa ini adalah, pada focal length paling dekat atau 18 mm, lensa ini akan mempunyai bukaan maksimum di f/3.5. Sedangkan pada focal length paling jauh yaitu 55 mm, lensa ini akan mempunyai bukaan maksimum sebesar f/5.6. Sederhana kan.

Pada bagian depan lensa, spesifikasi ini tertulis tapi tidak menggunakan tanda f melainkan hanya angka "1:" saja diikuti aperture maksimum lensa yang bisa digunakan. Di bawah ini foto bagian depan lensa kit Canon EF-S 18-55 mm 1:3.5-5.6 IS II.
arti kode-kode pada lensa Canon
Lensa Canon dengan bukaan apperture maksimum pada rentang f/3.5 sampai f/5.6
Pada beberapa lensa premium bukaan lensa maksimumnya bisa tetap tidak tergantung panjang fokal lensa. Sebagai contoh lensa Canon EF 25-105 f/4 L IS II USM mempunyai bukan maksimum fixed pada f/4 untuk range focal length 24-105 mm.
Lensa Canon dengan bukaan apperture maximum fixed f/4

Cara cek diafragma pada kamera DSLR

Diafragma atau aperture bisa kita amati dari bagian depan lensa atau bagian belakang lensa. Pada bagian depan kita bisa melihat susunan blade yang rapi dan membentuk lubang di tengah lensa. Ukuran lubang ini berubah sesuai dengan settingan apperture atau diafragma. Kita bisa melihat pergerakan diafragma ini pada saat kita memotret atau bisa bisa juga dengan menekan tombol preview dof (dept of field) yang biasa ada pada bagian depan body kamera.
Cara pakai tombol preview DOF pada kamera DSLR
Cara pakai tombol preview DOF pada kamera DSLR

Tombol preview DOF ini sebenarnya menurut saya tidak bermanfaat dalam pemotretan. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa preview yang dimaksud disini hanya menggerakan diafragma sesuai settingan kamera, view finder optik menjadi lebih gelap atau terang tergantung settingan diafragma. DOF atau ruang tajam foto tidak akan terlihat disini.

Pada beberapa lensa zaman dulu, bukaan lensa juga bisa diatur melalui aperture ring yang melingkar pada body lensa. Aperture ring ini mempunyai skala sesuai dengan interval f-stop lensa tersebut. Pada lensa jenis ini kita bisa langsung melihat perubahan aperture secara langsung saat kita merubah ring aperture.

Ring aperture pada Lensa Nikon 50 mm f/1.8
Ring aperture pada Lensa Nikon 50 mm f/1.8

Pengaruh diafragma pada ruang tajam foto

Foto yang diambil pada diafragma atau aperture yang berbeda akan menghasilkan ruang tajam yang berbeda. Ruang tajam atau depth of field merupakan area pada foto yang masih terlihat tajam, sementara di luar area tersebut akan terlihat blur atau tidak fokus. Efek ini sering disebut sebagai bokeh. Sebenarnya kurang tepat kalau hal ini disebut bokeh, karena bokeh sebenarnya ada unsur blur dari pantulan cahaya.

Efek ruang tajam ini dapat diamati secara langsung saat kita menggunakan kamera DSLR maupun mirrorless dengan menggunakan live view. Saat menggunakan live view mode, bukaan diafragma lensa langsung berubah begitu kita merubah settingan diafragma. Cahaya langsung masuk ke sensor dan di terjemahkan pada LCD. Sehingga efek dari semua settingan langsung terlihat pada LCD ini.

Lain halnya dengan view finder optik. Jika kita melihat pada tampilan view finder optik maka efek depth of field ini tidak akan terlihat meskipun kita sudah menekan tombol depth of field review. Hal ini disebabkan apa yang kita lihat pada view finder optik merupakan pantulan cahaya dari objek yang ada di depan lensa dan tidak ada pemrosesan gambar di sensor. Sensor baru bekerja setelah kita menekan tombol shutter release.

Secara sederhana jika kita ingin mendapatkan foto dengan ruang tajam yang sempit makan kita harus gunakan diafragma yang besar. Seperti dijelaskan ditas diafragma yang besar dilambangkan dengan angka f/n dimana n adalah angka yang paling kecil misalnya 1.8. Jadi saat kita menggunakan diafragma f/1.8 maka kita akan memperoleh foto dengan ruang tajam yang sempit. Berikut ini contoh foto yang diambil menggunakan kamera Nikon D700 dan lensa Nikor Af 50 mm f/1.8 pada bukaan terbesarnya f/1.8.
Jika kita ingin mendapatkan foto dengan ruang tajam yang sempit makan kita harus gunakan diafragma yang besar
Contoh Foto Dengan Ruang Tajam Sempit, diambil dengan lensa 50 mm pada bukaan f/1.8
Contoh foto dengan ruang tajam sempit (Foto diambil menggunakan lensa 50 mm pada f/1.8)

Foto di atas diambil pada bukaan apperture f/1.8. Terlihat foto bunga tampak jelas dengan background dan foreground yang blur.

Contoh Foto Dengan Ruang Tajam Luas (Foto diambil menggunakan lensa 50 mm pada f/8)
Dua foto ini diambil menggunakan aperture f/8 dan f/22. Pada bukaan kecil tersebut, kita bisa melihat area yang jelas lebih banyak lagi dibandingkan pada f/1.8.

Contoh Foto Dengan Ruang Tajam Yang Lebih Luas (Foto diambil menggunakan lensa 50 mm pada f/22)

Pengaruh diafragma pada bokeh foto

Dalam mengatur lubang cahaya pada lensa, diafragma menggunakan bilah-bilah atau blade diafragma yang tersusun secara memusat pada titik tengah lensa. Jumlah blade atau bilah ini akan menentukan seberapa halus bentuk dari lubang diafragma. Semakin banyak blade diafragma maka lubang yang terbentuk akan semakin mendekati bentuk lingkaran. Bentuk lubang diafragma ini nantinya akan berpengaruh tethadap bentuk bokeh yang muncul pada saat mengambil foto menggunakan bukaan diafragma besar.

Baca juga:



Interval aperture atau f-stop interval

Jika kita amati susunan angka n dan notasi aperture f/n maka kita akan mendapati beberapa angka.  Di bawah ini salah satu contohnya:

f/1.8, f/2.8, f/4, f/5.6, f/8, f/11, f/16, f/22

Interval ini merupakan jarak antara stop dalam diafragma. Kita sering melihat angka-angka ini bahkan sering memakainya pada saat memotret. Yang jarang diperhatikan adalah mengapa angka-angka itu yang muncul secara spesifik. Jika kita buat tabel sederhana untuk menghitung luas area dari lingkaran yang dihasilkan pada tiap diameter bukaan lensa maka kita bisa memperoleh  hasil sebagaimana dibawah.
Contoh tabel f-stop interval pada lensa dengan pajang fokal 50 mm
Contoh tabel f-stop interval pada lensa dengan pajang fokal 50 mm
Dalam tabel diatas kita bisa lihat bahwa rata-rata ratio luas area antara satu bukaan lensa dengan bukaan lensa selanjutnya adalah 2. Sedikit anomali memang terlihat pada bukaan f/1.8. Luas area ini jika dibandingkan dengan luas area pada bukaan f/2.8 maka akan diperoleh angka 2.4 bukan 2 seperti ratio yang lain.

Jadi secara umum, dari f/22 sampai f/2.8, setiap kali kita merubah diafragma maka akan merubah luas bukaan sebanyak dua kalinya. Jika kita ubah diafragma dari f/22 menjadi f/16 maka jumlah cahaya yang masuk akan menjadi dua kali lipat dari jumlah cahaya pada diafragma f/22. Dan seterusnya sampai bukaan f/2.8. Interval inilah yang disebut sebagai interval satu full stop.

Bagaimana dengan angka-angka f-stop yang lain seperti pada interval di bawah ini:

f/4, f/4.5, f/5, f/5.6, f/6.3, f/7.1, f/8, f/9, f/10, f/11

Jika kita buat tabel yang sama maka kita akan memperoleh hasil sebagaimana pada screenshoot tabel di bawah ini.
Tabel perbandingan luas area diafragma pada berbagai f-stop
Tabel perbandingan luas area diafragma pada berbagai f-stop
Sekali lagi kita mendapati ratio area yang relatif sama. Jika pada interval f-stop sebelumnya intervalnya satu stop maka interval yang ini disebut interval sepertiga stop.

Pada pembahasan mengenai mengenal stop dalam fotografi saya pernah sebutkan bahwa pengetian satu stop dalam fotografi adalah ukuran relatif besarnya cahaya yang masuk le dal lensa dari satu interval ke interval lainnya. Saat kita menaikkam eksposur sebesar satu stop, artinya kita menaikkan jumlah cahaya yang masuk sebanyak dua kali dari jumlah cahaya yang masuk pada settingan sebelumnya. Pun demikian kuga saat kita mengurangi satu stop artinya kita mengurangi jumlah cahaya yang masuk ke dalam kamera sebanyak setegahnya.

Bagaimana cara memilih diafragma atau apperture yang tepat dan kreatif

Bagaimana cara memilih bukaan aperture atau diafragma yang tepat? Pada pembahasan mengenai teknik fotografi dasar saya sempat membahas mengenai segitiga eksposur. Sebuah eksposur yang tepat bisa tersusun atas kombinasi 3 buah pilihan yaitu ISO, shutter speed dan apperture. Artinya dengan ISO tertentu dan speed tertentu maka akan dihasilkan satu settingan aperture tertentu. Namun demikian jika ISO atau shutter speed kita ubah maka settingan aperture juga bisa berubah. Trus bagaimana kita memilih ukuran aperture yang tepat?

Dalam hal pencahayaan aperture yang tepat adalah yang bisa memberikan paparan cahaya yang cukup sehingga dihasilkan sebuah foto yang jelas. Namun demikan dalam konteks seni fotografi, eksposur yang tepat adalah eksposur yang kreatif.

Sebagai contoh pada saat kita memotret bunga maka kita bisa menghasilkan foto yang jelas dengan berbagai kombinasi diafragma dalam segitiga eksposur. Tapi foto yang terlihat kreatif hanya yang diambil pada pilihan diafragma besar misalnya f/1.8.

Sebagaimana di sebutkan di atas, pemilihan diafragma akan mempengaruhi ruang tajam dari foto yang dihasilkan. Bukaan yang lebar (angka f numbernya kecil misalnya f/1.8) akan mempunyai ruang tajam yang tipis dan sebaliknya bukaan yang kecil (angka f numbernya besar misalnya f/22) akan mempunyai ruang tajam yang lebar.

8 Tips memilih aperture atau diafragma yang tepat dan kreatif

Dalam pemotretan, kita bisa memilih dan mengubah-ubah diafragma sampai menghasilkan foto yang kita inginkan. Kita bisa mencoba-coba merubah aperture dan mencari eksposur diafragma yang bisa menghasilkan eksposur yang kreatif sehingga membuat foto yang kita hasilkan menjadi unik dan bernilai seni.

Berikut ini beberapa tips dalam memilih aperture :

  1. Untuk foto makro gunakan aperture besar misalnya f/1.8 untuk mengisolasi objek yang akan kita foto dari foreground dan background-nya.
  2. Untuk foto landscape gunakan aperture kecil misalnya f/11 untuk menghasilkan ruang tajam yang luas dari foto bentang alam yang kita ambil.
  3. Saat membuat foto slow speed (misalnya foto air terjun seperti kapas), gunakan aperture yang kecil supaya bisa mendapatkan shutter speed yang cukup lama untuk merekam gerakan air.
  4. Pelajari jarak hyperfocal lensa anda (pada kesempatan lain saya akan bahas)
  5. Saat melakukan pemotretan group hindari aperture besar karena akan membuat orang yang dibelakang tidak fokus, yang disebabkan oleh ruang tajam yang semit.
  6. Gunakan bracketing untuk mengambil beberapa foto sekaligus dengan beberapa settingan diafragma
  7. Cek sensor kamera anda dari debu dengan cara memotret bidang putih dengan setingan diafragma paling kecil.
  8. Jika sensor anda sudah berdebu maka sebaiknya dibersihkan, jika belum bisa dibersihkan maka hindari penggunaan aperture kecil. Debu pada sensor akan terlihat pada foto jika kita menggunakan aperture kecil.
Demikain pembahasan singkat mengenai seluk beluk diafragma dalam fotografi. Semoga artikel ini bermanfaat. Jika anda punya pendapat atau komentar silahkan tulis pada kolom komentar di bawah ini.

Salam jepret.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Memahami diafragma dalam fotografi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel