Pilih RAW atau JPEG/JPG

Pilih RAW atau JPEG?


Saat kita memotret menggunakan kamera digital ada beberapa pilihan output file yang bisa dipilih. Kita bisa memilih untuk menggunakan format JPEG, RAW atau kedua-duanya. Saya menggunakan kamera DSLR sejak tahun 2008. Pada waktu awal menggunakan kamera DSLR saya memilih menggunakan format JPEG dengan resolusi tertinggi. Saya tidak terlalu mempedulikan adanya settingan RAW yang bisa dipilih.

Namun lama-kelamaan saya tertarik dengan settingan RAW dan mencoba menggunakan RAW dan JEPG secara bersamaan. Saya memilih menggunakan RAW dan JPEG karena saya menginginkan sebuah file yang bisa cepat diakses dan dishare tapi saya ingin juga sebuah file yang masih bisa olah secara maksimal.

Dalam perjalanan saya memotret akhirnya saya kembali menggunakan JPEG secara full dan tidak menggunakan RAW. Apa saja yang saya alami saat menggunakan JPEG+RAW? Apa kelebihan setingan masing-masing tipe file? Kenapa saya akhirnya memutuskan untuk menggunakan JPEG saja? Pada artikel ini saya akan coba bahas satu persatu dan saya coba carikan referensi dari fotografer-fotografer yang sudah terkenal tentang pemakain file JPEG atau file RAW ini.


Apakah file RAW itu?

Sebelum lebih lanjut, saya ajak anda untuk berdiskusi sebentar untuk memahami sebenarnya apakah file RAW itu. Cara paling mudah untuk menggambarkan file RAW adalah dengan menganalogikan file RAW tersebut dengan film negatif pada era Kamera Film.

Pada era Kamera Film, sebuah film negatif digunakan sebagai tempat merekam foto. Film negatif ini kemudian dicuci dan dikembangkan menjadi film positif atau sebuah foto cetak. Semua data pemotretan terekam pada film negatif ini. Dalam proses pencetakan foto, kita masih bisa mengatur beberapa settingan, menambahkan filter dan settingan lain sesuai dengan kebutuhan atau keinginan fotografer.

Jika menggunakan RAW ibarat memotret dengan kamera film maka menggunakan JPEG ibarat memotret menggunakan kamera polaroid dimana kita langsung mendapatkan hasil fotonya dan tidak bisa diolah lagi.

Kita bisa bilang bahwa file RAW merupakan film negatif era digital. Di dalam file RAW ini semua data pemotretan disimpan. Semua informasi detail foto, highlight,shadow, white balance, exposure, picture style dan data-data lainya masih tersimpan di dalam file RAW. Sehingga ibarat film negatif, file RAW ini bisa diproses lebih lanjut di dalam kamar gelap digital untuk menghasilkan foto sesuai keinginan fotografer.

File RAW ini mempunyai informasi yang jauh lebih banyak daripada file JPEG. Saat kita memotret menggunakan file RAW maka kita masih mengubah beberapa settingan utama kamera setelah kita selesai memotret. Misalnya kita masih bisa mengubah white balance yang digunakan saat memotret dari file RAW ini. Kita juga bisa mengubah kompensasi eksposur dari settingan kamera yang digunakan saat memotret. Selain white balance dan kompensasi eksposur, kita juga bisa melakukan perubahan terhadap picture styel yang digunakan. Selain 3 hal diatas kita masih bisa mengatur parameter lain seperti brightness, contrast, saturasi, sharpness dan settingan lainnnya.

Kalau sekedar editing foto di kamar gelap digital bisa juga dilakukan terhadap file JPEG; lalu apa yang membedakan editing foto di kamar gelap digital antara menggunakan file RAW dibandingkan menggunakan file JPEG? Informasi yang disimpan oleh file RAW jauh lebih banyak dari file JPEG sehingga kita bisa mendapatkan detail, highlight, shadow, warna yang tidak bisa diperoleh dari editing menggunakan file JPEG.

Karena file RAW masih menyimpan semua data dan informasi kondisi pemotretan maka ukuran file RAW akan jauh lebih besar dari ukuran file JPEG. Sebagai contoh pada kamera DSLR Canon EOS 450D ukuran file RAW bisa mencapai 16 MB sedangkan file JPEG hanya sekitar 5 MB.


Apakah file JPEG itu?

Dalam kamera digital, file JPEG merupakan sebuah file hasil dari pengolahan software yang ada pada kamera. Sebenarnya lebih tepatnya software tersebut melakukan kompresi file RAW menjadi JPEG di dalam kamera.

JPEG atau singkatan dari Joint Photographic Experts Group merupakan salah satu bentuk file foto digital hasil dari lossy compression atau kompresi ukuran foto dengan penghilangan beberapa informasi dari file aslinya supaya ukurannya lebih kecil.

Berdasarkan settingan kamera yang ada, firmware yang ada pada kamera akan mengkonversi file RAW menjadi file JPEG. Dalam proses konversi itu software kamera menghilangkan informasi-informasi yang dirasa sudah tidak diperlukan lagi untuk menghasilkan sebuah foto JPEG.

Hal inilah yang menyebabkan ukuran file JPEG lebih kecil dibandingkan dengan ukuran file RAW. Akibat dari kompresi ini data-data asli pada file JPEG hilang sehingga saat dilakukan editing tidak akan semaksimal file RAW.


Cara membuka file RAW

Setiap kamera digital memproduksi file RAW yang berbeda-beda. Kamera DSLR Canon menghasilkan file RAW dengan extensi .CR2. Kamera DSLR Nikon menghasilkan file RAW dengan ekstensi .NEF. Kamera mirrorless Sony A6000 menghasilkan file RAW dengan ekstensi ARW.

Untuk membuka file RAW kita membutuhkan software tertentu seperti Adobe Lightroom atau software bawaan dari kamera. Untuk Canon memberikan secara gratis software Canon DPP, untuk Nikon menggunakan NEX Capture.


Menggunakan Canon DPP untuk membuka file RAW dari kamera DSLR Canon


Setiap pembelian kamera DSLR Canon akan mendapatkan CD yang berisi software EOS Utility dan Canon DPP. Canon DPP bisa digunakan untuk membuka file RAW dari kamera DSLR Canon. Kelebihan menggunakan software bawaan dari pabrikan kamera adalah software tersebut telah di desain secara spesifik untuk keperluan pengolahan file RAW hasil kamera. Dalam hal ini Canon DPP di desain untuk mengolah file RAW berekstensi CR2 hasil dari kamera digital Canon.

Yang saya sukai dari Canon DPP adalah, terdapat fitur adjustement yang sangat mirip dengan pilihan yang ada pada kontrol kamera. Misalnya pilihan white balance, pilihan picture style dan eksposure compensation. Jadi jika kita tidak yakin white balance apa yang harus digunakan dalam memotret suatu objek atau tidak yakin dengan picture style seperti apa saat mau memotret landscape maka kita bisa memotret dalam format RAW dan kemudian memilih settingan white balance dan picture style setelah memotret.

Berikut ini contoh penggunaan Canon DPP untuk mengubah settingan white balance dan picture style pada file RAW. Settingan ini tidak akan muncul kalau kita membuka file JPEG hasil dari kamera.
Perbandingan Foto format RAW dengan format JPG Pada Kamera Canon
Perbandingan Foto format RAW dengan format JPG Pada Kamera Canon

Merubah Picture Style Pada File RAW hasil kamera Canon menggunakan Canon DPP
Merubah Picture Style Pada File RAW hasil kamera Canon menggunakan Canon DPP

Pada file JPG kita tidak bisa merubah picture style di Canon DPP karena datanya sudah dibuah saat software kamera mengkompresi file foto menjadi file JPG
Pada file JPG kita tidak bisa merubah picture style di Canon DPP karena datanya sudah dibuah saat software kamera mengkompresi file foto menjadi file JPG

Jika kita memotret menggunakan file RAW maka pada Canon DPP kita juga bisa menyesuaikan highlight, shadow, saturasi sampai diperoleh foto sesuai dengan keinginan fotografer. Foto dibawah merupakan contoh permasalahan saat memotret matahari terbenam dengan foreground yang berada dekat dengan fotografer. Foreground akan terlihat gelap untuk mengejar tampilan background langit yang tidak terlalu terang atau over eksposur.

Jika file JPG hasil dari kamera kita buka dengan Canon DPP maka kita tidak bisa lagi koreksi highlight dan shadownya. Pada file RAW (sebelah kiri) kita bisa merubah settingan shadown dan highlight untuk menampilkan foreground sehingga diperoleh foto sebelah kiri.

Sebenarnya pengaturan ini bisa juga dilakukan pada file JPG dengan software pengolah foto seperti Adobe Photoshop, GIMP atau Adobe Lightroom.

Hasil pengolahan foto  format RAW (kiri) dibandingkan foto dari hasil kamera langsung dengan format JPEG (kanan)
Hasil pengolahan foto  format RAW (kiri) dibandingkan foto dari hasil kamera langsung dengan format JPEG (kanan)

Foto dibawah ini adalah foto hasil pengolahan file JPG menggunakan Adobe Lightroom. Dengan mengurangi highlight dan menambah shadow maka kita bisa membuat bagian foreground menjadi lebih jelas. Mungkin akan muncul pertanyaan "Kalau kita bisa koreksi foto JPG menggunakan Lightroom, mengapa harus pakai RAW?"

Salah satu alasan mengapa harus pakai RAW pada kasus ini adalah software Canon DPP merupakan program gratis bawaan kamera sedangkan Adobe Lightroom merupakan software yang cukup mahal. Selain itu file RAW sendiri memuat informasi lebih banyak sehingga kita lebih flexible dalam melakukan pengolahan foto tersebut.
Pengolahan highlight dan shadow dengan Adobe Lightroom pada file JPG
Pengolahan highlight dan shadow dengan Adobe Lightroom pada file JPG







Memang pertanyaan antara memilih RAW atau JPG/JPEG selalu menjadi perdebatan di kalangan
fotografer. Ada yang menganjurkan untuk selalu menggunakan RAW, tapi ada juga yang menganjurkan untuk menggunakan JPG/JPEG.

Sebenarnya pilihan tersebut berada di tangan fotografer masing-masing. Setiap orang berbeda dan mempunyai kebiasaan pemotretan yang berbeda dengan yang lain. Di bawah ini saya rangkumkan kelebihan dan kekurangan masing-masing antara menggunakan file RAW dan menggunakan file JPG/JPEG.

Kelebihan menggunakan file RAW

Menggunakan file RAW mempunyai beberapa kelebihan seperti berikut :
  • Mendapatkan informasi yang lebih banyak yang tersimpan dalam file RAW yang kemudian bisa kita oleh sesuai keinginan kita
  • Bisa melakukan perubahan settingan kamera setelah memotret (misalnya pada kamera Canon kita bisa merubah pilihaj white balance, picture style dan kompensasi eksposur
  • Tidak terlalu pusing mengubah settingan white balance, picture style saat sedang memotret karena nanti bisa kita ubah sesuai keinginan kita

Kekurangan file RAW

  • Mempunyai ukuran lebih besar sehingga memakan tempat
  • Membutuhkan proses lebih lanjut (editing) untuk merubah menjadi file JPEG
  • Membutuhkan software tertentu untuk membukanya
  • Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mendowload dari kamera, membuka dan juga mengeditnya
  • Tidak bisa langsung di share karena membutuhkan software khusus untuk membukanya
  • Setiap kamera mempunyai format file RAW tersendiri

Kelebihan menggunakan file JPEG

  • Mempunyai ukuran file yang lebih kecil dibandingkan file RAW
  • Mudah dibuka dimana-mana tanpa memerlukan software khusus
  • Lebih cepat dalam pemrosesannya (download, buka, edit dan membackupnya)

Kekurangan menggunakan file JPEG

  • Tidak bisa mengedit white balance dan settingan kamera lain seperti pada file RAW
  • Merupakan file terkompresi sehingga banyak detail informasi yang hilang

Saya harus menggunakan file RAW atau JPEG/JPG?

Banyak kontroversi di kalangan fotografer mengenai pemakain file RAW dan JPEG/JPG ini. Fotografer-fotografer senior saja berbeda pendapat. Saya ambil contoh Ken Rockwell menganjurkan untuk memotret menggunakan JPEG disebabkan kelemahan-kelemahan fiel RAW seperti yang disebutkan diatas.

File RAW dipenuhi dengan banyak data-data pemotretan/informasi atau knowledge. Dan ada pepatah bilang "Knowledge is Power". Jika kita menggunakan file RAW maka kita mempunyai "power" lebih dalam melakukan pengolahan lebih lanjut file RAW tersebut.

Akan tetapi mengolah file RAW membutuhkan waktu yang tidak sedikit, sementara ada pepatah bilang "Time is Money". Jika kita menggunakan file RAW maka banyak waktu kita akan kita gunakan untuk melakukan pengolahan lebih lanjut karena mau tidak mau kita harus mengolah foto tersebut.

Pertama kali memotret saya menggunakan file JPEG/JPG karena file inilah yang saya ketahui sebagai format gambar digital yang diterima secara umum. Kamera saya juga secara default memberikan seting pilihan JPEG/JPG. Setelah saya mengenal file RAW maka saya mencoba untuk memotret menggunakan dua jenis file tersebut secara bersamaan. Saya memotret dengan RAW dan JPEG/JPG. Hal ini menjadi jalan tengah atarara mendapatkan file JPEG yang sudah ready tanpa pengolahan dan juga mendapatkan file RAW yang bisa dijadikan backup kalau-kalau kita membutuhkan detail yang akan diambil dari file RAW.

Tapi hal ini membawa konsekuensi kepada besarnya ukuran tempat penyimpanan file foto yang harus saya siapkan. Kemudian seiring berjalannya waktu saya amati file RAW yang saya simpan sebagai back  up tersebut benar-benar berfungsi sebagai back up yang jarang sekali saya sentuh. Akhirnya saya kembali menggunakan file JPEG/JPG saja sebagai settingan file output dari kamera saya.

Pembahasan ini akan tetap menjadi kontroversi antara fotografer. Saya sendiri menganggap hal ini akan sangat tergantung dari kebutuhan dan kebiasaan masing-masing fotografer. Yang jelas kemampuan fotografi kita tidak ditentukan dari format file yang kita pilih :). Semoga artikel ini bermanfaat. Silahkan share pengalaman anda disini.

Terima kasih.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Pilih RAW atau JPEG/JPG"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel